check out my collection for Kampiun : Knowledge Economy dan Knowledge Worker

Pada buku “The Third Wave” karangan Alvin Toffler di tahun 1980an, bercerita mengenai era ekonomi yang dibagi menjadi tiga gelombang evolusi ekonomi. Gelombang pertama disebut ekonomi pertanian yang dimulai pada tahun 1800 Sebelum Masehi sampai pertengahan abad ke-18. Gelombang kedua disebut dengan ekonomi industry yang berlangsung sejak pertengahan abad ke-18 hingga abad ke-20. Dan gelombang ekonomi yang terakhir disebut dengan information economy yang dipengaruhi oleh teknologi informasi serta knowledge worker. Beberapa pakar manajemen menyebutkan bahwa saat ini dunia sedang memasuki era gelombang ekonomi yang terakhir.
Gelombang ini lah yang lebih dikenal dengan Knowledge Economy atau New Economy. Menurut OECD (1996) knowledge economy merupakan perekonomian yang secara langsung didasarkan atas produksi, distribusi, serta penggunaan knowledge (knowledge based economy).


Sebelum nya, dapat dilihat perbedaan dari ketiga gelombang ekonomi tersebut. Perbedaan nya dapat kita lihat dari sistem dasar yang menopang suatu sistem produksi yaitu lahan, tenaga kerja dan modal (capital) serta kontribusi yang diberikan oleh sistem dasar tadi terhadap penciptaan value di mata pelanggan.
Dalam sistem ekonomi pertanian, tanah merupakan factor produksi yang paling utama yang kemudian diikuti dengan ketersediaan tenaga kerja untuk mengolah lahan tersebut. Akan tetepi tingkat keberhasilan pencapaian penciptaan nilai tambah atau produktivitas dalam sistem ekonomi ini menduduki posisi yang paling rendah dibandingkan dengan 2 gelombang evolusi ekonomi lainnya.

Gelombang ekonomi industry merupakan lanjutan dari gelombang ekonomi pertanian. Pada jaman ini, produktifitas dipengaruhi oleh kepimilikan alata produksi berupa mesin-mesin dan modal financial, tenaga kerja keras juga dibutuhkan hanya saja dapat digantikan. Pada gelombang ekonomi industry ini, tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga kerja yang sudah memiliki knowledge yang tinggi hanya saja belum menjadi sebagai factor utama. Value added yang dihasilkan jauh lebih tinggi daripada era ekonomi pertanian.

Sistem ekonomi berbasis knowledge dimulai semenjak tahun 1990an saat kecenderungan bisnis bergesr dari industry manufaktur ke pelayanan atau service economy. Pada era ini ditandai dengan adanya relokasi pabrik dari Negara-negara maju ke Negara-negara lain yang masih dapat menyediakan tenaga kerja murah. Sedangkan rancangan dan strategi tetap dilaksanakan dari Negara-negara maju tersebut.
Menurut Stephen Covey (2004), knowledge economy di deskripsikan sebagai sistem ekonomi yang dikarakterisasi oleh factor-faktor sebagai berikut.
·Globalisasi pasar dan teknologi
·Demokrasi dari informasi dan ekspektasi
·Konektivitas universal
·Peningkatan intensitas kompetisi yang bersifat eksponensial
·Pergeseran penciptaan kekayaan dari uang ke manusia
·Knowledge worker market, yaitu professional-profesional yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan akan semakin bebas menentukan pilihan tempat kerjanya.

Knowledge worker, yang merupakan inti dan penggerak utama suatu organisasi pada era knowledge economy, adalag orang-orang yang memiliki kompetensi tinggi, dinamis, dan memiliki daya yang tinggi untuk mempelajari dan memahami isu-isu baru dan menciptakan peluang yang positif pada setiap situasi yang baru. Knowledge worker bekerja tidak menggunakan basis keterampilan teknis yang biasa dipergunakan untuk pekerjaan rutin dan berulang, akan tetapi memiliki learning skill dan learning capability yang tinggi yang memungkin kan mereka tetap inovatif dalam berbagai situasi yang berubah dengan cepat.

Knowledge worker ini bekerja berdasarkan otak dan jiwa bukan dengan tangan ataupun otot. Mereka merupakan orang yang terdidik dan berpengalaman. Dalam melakukan pekerjaan nya, mereka sangat akrab dengan teknologi informasi. Setiap harinya diisi dengan informasi seperti mengakses, mengolah, menganalisis dengan aplikasi teknologi informasi, menyimpan, mentransfer, serta mampu mengaplikasikan informasi dan knowledge yang bersifat teori ataupun analitik.Dengan menerapkan pola manajemen seperti perintah dan control (command and control) tidak lagi efektif untuk meningkatkan produktifitas. Tipe mereka adalah melihat pekerjaan sebagai sumber kepuasan dan sebagai tempat untuk berkreasi dan berproduksi. Walaupun sudah berpendidikan tinggi, namun mereka akan tetap belajar secara fleksibel sepanjang hidup mereka, serta menyukai, terbuka, dan mudah menyesuaikan diri dengan ide-ide baru. Factor inilah yang memungkin kan mereka memiliki beberapa karir sepanjang hidup mereka.

*lagi-lagi artikel ini tercipta setelah baca INSPIRE,,good magazine guys...:)

0 komentar: